5 Kunci Aturan Keuangan
di Masa Pandemi
Di saat ekonomi sedang lesu sebagai akibat pandemi yang berkepanjangan. Saat ini kita dilatih untuk semakin memperhatikan tidak hanya kesehatan namun juga keuangan kita. Berikut strategi yang bisa diterapkan selama pandemi untuk menjaga kesehatan keuangan kita.
1. Anggarkan budget belanja setiap bulannya dengan metode zero based budgeting
Buat yang belum tau, zero-based budgeting ini adalah metode budgeting yang akan membuat kita tidak akan punya uang tersisa di dompet kita! Ha? Yang benar aja.
Iya, memang seperti itu. Jadi misalnya kita punya pendapatan bulanan Rp 5,000,000 metode ini akan langsung mengelompokkan uang kita ke dalam pos-pos pengeluaran.
Misalnya Rp 5,000,000
40% = Rp 2,000,000 untuk makan 1 bulan
30% = Rp 1,500,000 untuk bayar kos, listrik, air
20% = Rp 1,000,000 untuk beli buku, kuota, pulsa
10% = Rp 500,000 untuk menabung
Kelihatan kan kalau sisanya uang kalian saat ini jadi Rp 0 rupiah.
2. Tentukan prioritas, sesuaikan budget
Terkadang hal yang kelihatan “urgent” bisa jadi membuat kita out of budget. Misalnya, lagi WFH pakai laptop pribadi, terus ternyata laptop tiba-tiba rusak dan harus di service. Panik gak ini? Panik lah. Jadi lah kita buru-buru mencari tempat service terdekat. Tapi ternyata, karena terlalu terburu-buru kita sampai tidak sempat untuk mencari alternatif untuk service yang sesuai dengan budget kita. Dana darurat jadi langsung terkuras deh. Walaupun kondisi mendesak dan punya dana darurat, jangan lupa untuk tetap menyesuaikan budget kalian waktu melakukan pengeluaran untuk keperluan apapun itu.
3. Manfaatkan cashback, diskon, promo, yang bermanfaat
Ketika hendak berbelanja sesuatu, coba lihat cashback/ promo/ diskon yang bisa dimanfaatkan. Ada baiknya, kita bisa turn-off notification sehingga tidak mudah tergoda dengan belanja ketika ada cashback/ promo/ diskon. Terapkan pola pikir, jika hanya karena aku butuh, maka aku akan beli, lalu kemudian aku mencari cashback/ diskon/ promo yang bisa aku manfaatkan untuk menghemat pengeluaranku. Namun, jika aku tidak butuh, walaupun ada cashback/ diskon/ promo. Maka aku tidak akan membelinya.
4. Hindari belanja (kebutuhan konsumtif) dengan utang
Tidak ada yang tau kapan pandemi ini akan berakhir. Semua menjadi serba tidak pasti. Namun hanya 1 yang pasti, dompet kita ada limitnya. Oleh karena itu, hindari membeli hal-hal yang sifatnya konsumtif dimasa seperti ini dengan utang (paylater/ kredit card) jika memang dengan alat bantu itu cashback/ promo/ diskon bisa lebih banyak. Kontrol nya setiap minggu pengeluaran-pengeluaran dalam pos-pos paylater dan kredit card kamu. Jangan sampai out of budget.
5. Tetap konsisten menabung (jika memungkinkan)
Jika dimasa saat ini, pengeluaran berkurang karena jadi lebih sedikit jalan-jalan dan habis waktu di rumah saja ditambah pendapatan yang masih cenderung stabil. Maka momen ini harus dimanfaatkan untuk terus melakukan saving alias menabung.
Kurangi Ego, Perbanyak Tabungan
Banyak artikel tentang tips and trick bagaimana cara untuk membedakan keinginan dan kebutuhan. Banyak yang beri nasihat-nasihat atau kutipan bijak, tentang
“Kurangi beli-beli kopi di coffee shop -kekinian, itu sumber pemborosan”
“kalau kamu ga punya tabungan 10 juta di umur 20 tahun berarti kamu boros!”
Namun, siapa sih yang sebenarnya bisa membedakan keinginan dan kebutuhan dari setiap pengeluaran yang kita lakukan? Jawabannya adalah diri kita sendiri. Belajar untuk mengetahui diri kita lebih lagi. Apakah yang saya beli selama ini hanya untuk menunjukkan jika saya ini mampu kok beli ini itu, aku bisa kok punya gaya hidup yang seperti lingkungan tempat kerja aku, saya mampu kok, saya bisa kok.
Kebutuhan itu sesederhana, jika kita tidak membeli kebutuhan kita, maka kita tidak bisa hidup. Sandang. Pangan. Papan. SPP, sederhana, bukan?
Contohnya, makanan, minuman kita sehari-hari. Kalau kita tidak beli bahan makanan, tidak memasak, tidak beli makanan online/ beli di warteg, kita akan kelaparan dan tidak bisa hidup. Tapi, ini yang perlu diingat, akan ada saja orang yang berkata “sakit perut ini kalau makan warteg, aku mau nya makan yang mahal-mahal aja deh”. Standar hidup seseorang memang tidak bisa disamakan, sakit perut ini perlu dilihat kembali, apakah karena warteg nya memang kotor atau karena gengsi kalau makan warteg? Siapa yang bisa menilai ini perkara kebersihan atau gengsi? Iya diri kita sendiri.
“Living below your means”
“Jangan sampai besar pasak daripada tiang”
Selama kamu masih bisa membiayai kebutuhan sehari-harimu dan masih bisa bayar pay later, kredit card, dan segala macam cicilan. Iya, tidak masalah. Namun, apakah kita mau menjalani hidup hingga tua terus-menerus hanya untuk membayar cicilan? Kita bisa mengatur hidup yang seperti apa yang kita inginkan dengan mengurangi ego kita dan lebih mendengarkan apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup ini.



